A. Pendahuluan
Sastra anak
adalah sastra yang dibaca anak- anak dengan bimbingan dan
pengarahan anggota dewasa suatu masyarakat, sedang penulisannya juga
dilakukan oleh orang dewasa “karya yang khas dunia anak, dibaca anak,
serta harus dibimbing orang dewasa/orangtua”. Hal yang tidak boleh
dilupakan dalam memahami dan bergaul dengan sastra anak antara lain :
• Bahwa kita berhadapan dengan karya sastra. Dengan demikian
menggunakan elemen sastra yang lazim seperti sudut pandang, latar,
watak, alur dan konflik, tema, gaya, dan nada.
• Kita mendapat kesan yang mendalam dan serta merta kita temukan
dalam sastra bahwa adanya kejujuran, penulisan bersifat langsung, serta
informasi yang memperluas wawasan.
Sastra anak bersumber dari pengalaman, pengetahuan umum, pemahaman
psikologis, pedagogis, sosial, hukum, adat, budaya, bahkan agama. Sastra
anak lahir kemudian diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun
melalui lisan. Sastra anak secara formal dan intitusional dimulai pada
abad ke-19.
Tema yang diangkat pada sastra anak beragam mengenai masalah kehidupan
apalagi jika disangkutkan dengan tujuan penulisannya seperti pendidikan,
pengajaran, budi pekerti, lingkungan, kebudayaan, anak mandiri dan
lainnya. Tema yang diangkat dalam sastra anak menjauhi unsur-unsur
kekerasan dan asusila. Selain dimaksudkan untuk menghibur sastra anak
juga dibuat sebagai alat penunjang pendidikan karena unsur-unsurnya yang
mendidik.
Pengajaran sastra di Sekolah Dasar (SD) diarahkan pada proses pemberian
pengalaman bersastra. Siswa diajak untuk mengenal bentuk dan isi sebuah
karya sastra melalui mengenal dan mengakrabi sastra sehingga tumbuh
pemahaman dan sikap menghargai cipta sastra sebagai suatu karya yang
indah dan bermakna.
Karya sastra anak yang merupakan jenis bacaan cerita anak-anak
merupakan bentuk karya sastra yang ditulis untuk konsumsi anak-anak.
Sebagaimana karya sastra pada umumnya, bacaan sastra anak-anak merupakan
hasil kreasi imajinatif yang mampu menggambarkan dunia rekaan,
menghadirkan pemahaman dan pengalaman keindahan tertentu.
Anak usia SD pada jenjang kelas menengah dan akhir sebagai pembaca
sastra telah mampu menghubungkan dunia pengalamannya dengan dunia
rekaan yang tergambarkan dalam cerita. Hubungan interaktif antara
pengalaman dengan pengetahuan kebahasaan merupakan kunci awal dalam
memahami dan menikmati bacaan cerita anak-anak. Bacaan tersebut ditinjau
dari cara penulisan, bahasa, dan isinya juga harus disesuaikan dengan
tingkat perkembangan dan readiness anak.
B. Pengertian Sastra Anak-Anak
Secara konseptual, sastra anak-anak tidak jauh berbeda dengan sastra
orang dewasa (adult literacy). Keduanya berada pada wilayah sastra yang
meliputi kehidupan dengan segala perasaan, pikiran dan wawasan
kehidupan. Yang membedakannya hanyalah dalam hal fokus pemberian
gambaran kehidupan yang bermakna bagi anak yang diurai dalam karya
tersebut.
Sastra (dalam sastra anak-anak) adalah bentuk kreasi imajinatif dengan
paparan bahasa tertentu yang menggambarkan dunia rekaan, menghadirkan
pemahaman dan pengalaman tertentu, dan mengandung nilai estetika
tertentu yang bisa dibuat oleh orang dewasa ataupun anak-anak. Apakah
sastra anak merupakan sastra yang ditulis oleh orang dewasa yang
ditujukan untuk anak-anak atau sastra yang ditulis anak-anak untuk
kalangan mereka sendiri tidak perlu dipersoalkan. Huck (1987)
mengemukakan bahwa siapa pun yang menulis sastra anak-anak tidak perlu
dipermasalahkan asalkan dalam penggambarannya ditekankan pada kehidupan
anak yang memiliki nilai kebermaknaan bagi mereka. Sastra anak-anak
adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak
melalui pandangan anak-anak (Norton,1993). Namun demikian, dalam
kenyataannya, nilai kebermaknaan bagi anak-anak itu terkadang dilihat
dan diukur dari perspektif orang dewasa.
Riris K Sarumpaet (1976:23) melihat empat titik yang membedakannya
dengan bacaan orang dewasa:
1. Secara tradisional, bacaan anak-anak adalah bacaan tumbuh dari
lapisan rakyat sejak zaman dahulu kala dalam bentuk mitologi,
cerita-cerita binatang, dongeng, legenda, dan kisah-kisah kepahlawanan
yang romantis.
2. Secara idealistis, bacaan anak-anak adalah bacaan yang patut dan
universal, didasarkan pada bahan-bahan terbaik yang diambil dari zaman
yang telah lalu dan karya-karya penulis terbaik masa kini.
3. Secara popular, bacaan anak-anak adalah bacaan yang bersifat
menghibur, sesuatu yang menyenangkan anak-anak.
4. Secara teoritis, bacaan anak-anak adalah bacaan yang dikonsumsi
anak-anak dengan bimbingan dan pengarahan orang dewasa.
Ciri khas bacaan anak-anak adalah:
1. Adanya sejumlah pantangan, artinya karena pembacanya anak-anak, maka
hanya hal-hal tertentu yang dapat dikisahkan pada anak-anak usia
tertentu.
2. Penyajiannya dengan gaya langsung, tidak bertele-tele atau
berbelit-belit.
3. Adanya fungsi terapan.
C. Bahan Pembelajaran Sastra Anak
Dalam kurikulum 2006 Standar Kompetensi yang berhubungan dengan sastra
sebagai berikut untuk tingkat Sekolah Dasar, terdiri atas aspek
mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Aspek mendengarkan yang
terkait dengan sastra yakni: siswa mampu mengapresiasi dan berekspresi
sastra melalui kegiatan mendengarkan hasil sastra. Aspek berbicara yang
terkait dengan sastra yakni: siswa mampu mengapresiasi dan berekspresi
sastra melalui kegiatan melisankan hasil sastra. Aspek membaca yang
terkait dengan sastra yakni: siswa mampu mengapresiasi dan berekspresi
sastra melalui kegiatan membaca hasil sastra. Aspek menulis yang terkait
dengan sastra yakni: siswa mampu menulis prosa dan puisi sederhana.
Membaca Puisi
Hal-hal yang dinilai dari membaca puisi antara lain (1) pemahaman
terhadap puisi, (2) ketepatan ucapan atau lafal, nada, irama, dan lagu
kalimat, (3) kuat atau lemah keras atau lembut: jelas atau tidaknya
suara (termasuk volume), (4) penghayatan dan penjiwaan terhadap puisi
yang dibaca, (5) penampilan atau ekspresi pada waktu membaca puisi.
Unsur Instrinsik, Struktur dan Ciri Karya Sastra serta Apresiasi Sastra
untuk Anak
Unsur intrinsik puisi bisa dilihat dari dua segi, yaitu:
1. Dari segi isi puisi yang terdiri atas: (a) tema; (b) rasa; (c) nada;
dan (d) amanat.
2. Dari segi struktur yang terdiri atas: (a) diksi; (2) imajinasi; (c)
kata-kata konkret; (d) gaya bahsa; (e) ritme/irama; (f) rima/bunyi.
Menyusun Parafrase Puisi ke Prosa
1. Menyusun parafrase terikat adalah (1) memberikan makna lari, caranya
dengan memberikan tambahan kata atau kata-kata pelengkap kata maupun
tanda baca, yang diletakkan di dalam kurung; (2) memberikan makna lugas,
caranya dengan mengubah bait menjadi paragrap dan menghilangkan tanda
kurung;(3) memberikan makna kias, caranya dengan menafsirkan kata yang
sekiranya bermakna kias; (4) memberikan makna utuh, caranya dengan
memadukan antara makna lugas (a) dan makna kias (b) di atas menjadi satu
kesatuan paragraph yang utuh dan padu.
2. Menyusun parafrase bebas adalah (1) membaca dan memahami secara
keseluruhan suatu karya sastra; (2) memahami jenis perubahan yang akan
dilakukan, baik bentuknya maupun redaksinya atau penggunaan bahasanya;
(3) mengungkapkan kembali dengan redaksi bahasa dan bentuk yang berbeda
tetapi isinya tetap sama.
Menurut Brady (1991) dan Huck, dkk (1987) (dalam Nurgiantoro, 2005: 49)
pemilihan bahan bacaan sastra anak perlu mempertimbangkan tahapan
perkembangan anak yang meliputi tahap perkembangan intelektual, moral,
emosional, dan personal, bahasa, dan pertumbuhan konsep cerita, karena
tiap tahapan mempunyai karakteristik yang berbeda sejalan dengan
perkembangan tingkat kematangan anak. Nurgiantoro menambahkan bahwa
dalam pemilihan bahan bacaan anak harus didasarkan pada materi yang
dapat dipahami anak, yang dituliskan dengan bahasa yang sederhana
sehingga dapat dibaca dan dipahami anak, dengan mempertimbangkan
kesederhanaan atau kompleksitas kosakata dan struktur.
Sebagai bahan pertimbangan pemilihan bahan bacaan sastra, berikut
dipaparkan pendapat pakar psikologi mengenai karakteristik anak pada
kelompok usia tertentu.
Anak usia 3 – 5 tahun
1. Pemungsian tahap praoperasional (Piaget).
2. Pengalaman pada tahap prakarsa versus kesalahan (Ericson).
3. Penafsiran baik buruk, boleh tidak boleh, berdasarkan konsekuensi
fisik, hadiah atau hukuman.
4. Perkembangan bahasa berlangsung amat cepat, pada usia lima tahun
sudah mampu berbicara dalam kalimat kompleks.
5. Perkembangan kemampuan perseptual seperti membedakan warna dan
mengenali atribut yang berbeda pada objek yang mirip.
6. Cara berpikir bertingkah laku egosentris.
7. Belajar lewat pengalaman tangan pertama.
8. Mulai menyatakan sesuatu secara bebas.
9. Belajar lewat permainan imaginative.
10. Membutuhkan pujian dan persetujuan dari orang dewasa.
11. Kurang memperhatikan masalah waktu.
12. Mengembangkan rasa tertarik dalam aktivitas kelompok.
Anak usia 6 dan 7 tahun
1. Beralih ke cara berpikir tahap operasional konkret (Piaget), mulai
berpikir beda, menentang dan bersikap hati-hati.
2. Pengalaman pada tahap kepandaian versus perasaan rendah diri
(Erikson).
3. Penerimaan konsep benar (baik), berdasarkan hadiah dan persetujuan.
4. Melanjutkan perkembangan pemerolehan bahasa.
5. Mulai memisahkan fantasi dari realitas.
6. Belajar berangkat dari persepsi dan pengalaman langsung.
7. Mulai berpikir abstrak, tetapi belajar lebih banyak terjadi
berdasarkan pengalaman konkret.
8. Lebih membutuhkan pujian dan persetujuan dari orang dewasa.
9. Menunjukkan sensitivitas rasa dan sikap terhadap anak lain dan orang
dewasa.
10. Berpartisipasi dalam kelompok sebagai anggota.
11. Mulai tumbuh rasa keadilan dan ingin bebas dari orang dewasa.
12. Menunjukkan perilaku egosentris dan sering menuntut.
Anak usia 8 dan 9 tahun
1. Pemungsian tahap berpikir operasional konkret (Piaget), berpikir kini
lebih fleksibel dan hati-hati.
2. Pengalaman pada tahap kepandaian versus perasaan rendah diri
(Erikson).
3. Penerimaan konsep benar berdasarkan aturan.
4. Adanya perhatian dan penghormatan dari kelompok lebih penting.
5. Mulai melihat dengan sudut pandang orang lain dan semakin berkurang
sifat egonya.
6. Mengembangkan konsep dan hubungan spesial.
7. Menghargai petualangan imaginatif.
8. Menunjukkan minat dan keterampilan yang berbeda dengan kelompoknya.
9. Mempunyai ketertarikan pada hobi dan koleksi yang bervariasi.
10. Menunjukkan peningkatan kemampuan mengutarakan ide ke dalam
kata-kata.
11. Membentuk persahabatan yang khusus.
Anak usia 10 – 12 tahun
1. Pemungsian tahap operasional konkret (Piaget), dapat melihat hubungan
yang lebih abstrak.
2. Pengalaman pada tahap kepandaian versus perasaan rendah diri
(Erikson).
3. Penerimaan masalah benar berdasarkan kenyataannya.
4. Memiliki ketertarikan yang kuat dalam aktivitas social.
5. Meningkatnya minat dalam kelompok, mencari kekariban dalam kelompok.
6. Mulai mengadopsi model ke orang lain daripada ke orang tua.
7. Menunjukkan minatnya pada aktivitas khususnya.
8. Mencari persetujuan dan ingin mengesankan.
9. Menunjukkan kemampuan dan kemauan untuk melihat sudut pandang orang
lain.
10. Pencarian nilai-nilai.
11. Menunjukkan adanya perbedaan di antara individu.
12. Mempunyai citarasa keadilan dan peduli kepada orang lain.
13. Pemahaman dan penerimaan terhadap adanya aturan berdasarkan
perbedaan jenis kelamin.
Anak Usia dan Adolesens (Masa Remaja)
1. Pemungsian tahap operasional formal (Piaget), kemampuan untuk
memprediksi, menginferensi, berhipotesis tanpa referensi.
2. Pengalaman tahap identitas versus kebingungan (Ericson).
3. Beralih ke tahap otonomi moral (Tahap 5 dan 6 Kohlberg).
4. Menunjukkan kebebasan dari keluarga sebagai langkah menuju ke awal
kedewasaan.
5. Mengidentifikasi diri dengan orang dewasa yang dikagumi.
6. Menunjukkan ketertarikannya pada isu-isu filosofis, etis, dan
religius.
7. Pencarian sesuatu yang idealistis.
Bentuk karya sastra yang dijadikan bahan ajar sastra anak hendaknya
memenuhi ciri-ciri sastra anak yang meliputi puisi, prosa, dan drama.
Puisi anak memiliki ciri-ciri antara laian, bahasanya dapat dipahami
anak, memiliki irama dan keindahannya, isinya sesuai dengan tingkat
perkembangan anak. Cerita anak memiliki ciri antara lain, latarnya
dikenal anak, alurnya berbentuk maju dan tunggal, penokohannya dari
kalangan anak, temanya tentang kehidupan sehari-hari, petualangan,
olahraga, dan keluarga. Drama anak-anak memiliki ciri-ciri yang relatif
sama dengan prosa yang berbeda segi dialog yang relatif sederhana dengan
adegan yang tidak panjang. Sastra anak pantang dari hal-hal kekerasan,
kehidupan yang pelik, dan percintaan yang erotis.
D. Manfaat Sastra Anak-Anak
Sebagai sebuah karya, sastra anak-anak menjanjikan sesuatu bagi
pembacanya yaitu nilai yang terkandung di dalamnya yang dikemas secara
intrinsik maupun ekstrinsik. Oleh karena itu, kedudukan sastra anak
menjadi penting bagi perkembangan anak. Sebuah karya dengan penggunaan
bahasa yang efektif akan membuahkan pengalaman estetik bagi anak.
Penggunaan bahasa yang imajinatif dapat menghasilkan responsi-responsi
intelektual dan emosional di mana anak akan merasakan dan menghayati
peran tokoh dan konflik yang ditimbulkannya juga membantu mereka
menghayati keindahan, keajaiban, kelucuan, kesedihan dan ketidakadilan.
Anak-anak akan merasakan bagaimana memikul penderitaan dan mengambil
risiko juga akan ditantang untuk memimpikan berbagai mimpi serta
merenungkan dan mengemukakan berbagai masalah mengenai dirinya sendiri,
orang lain, dan dunia sekitarnya (Huck, 1987). Pengalaman bersastra di
atas akan diperoleh anak dari manfaat yang dikandung sebuah karya
sastra melalui unsur intrinsik di dalamnya yakni; (1) memberi
kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan bagi anak-anak, (2)
mengembangkan imajinasi anak dan membantu mereka mempertimbangkan dan
memikirkan alam, kehidupan, pengalaman atau gagasan dengan berbagai
cara, (3) memberikan pengalaman baru yang seolah dirasakan dan
2dialaminya sendiri, (4) mengembangkan wawasan kehidupan anak menjadi
perilaku kemanusiaan, (5) menyajikan dan memperkenalkan anak terhadap
pengalaman universal dan (6) meneruskan warisan sastra.
Selain nilai instrinsik di atas, sastra anak juga bernilai ekstrinsik
yang bermanfaat untuk perkembangan anak terutama dalam hal (1)
perkembangan bahasa, (2) perkembangan kognitif, (3) perkembangan
kepribadian, dan (4) perkembangan sosial. Sastra yang terwujud untuk
anak-anak selain ditujukan untuk mengembangkan imajinasi, fantasi dan
daya kognisi yang akan mengarahkan anak pada pemunculan daya kreativitas
juga bertujuan mengarahkan anak pada pemahaman yang baik tentang alam
dan lingkungan serta pengenalan pada perasaan dan pikiran tentang diri
sendiri maupun orang lain.
E. Evaluasi Pengajaran Sastra Anak
Evaluasi pengajaran sastra anak ditekankan pada aspek belajar sambil
bermain dan sambil belajar. Soal atau tugas atau instrumennya bisa
berupa membaca puisi, membaca cerpen, menyanyikan puisi lagu anak-anak,
bercerita, menceritakan kembali, menulis puisi dengan tema tertentu,
menulis puisi dengan tema bebas, menulis cerpen dengan pengalaman
masing-masing, dan seterusnya. Misi penting yang harus sampai adalah
menumbuhkan kecintaan anak terhadap sastra. Cara evaluasi sastra yang
menekankan aspek kognitif harus dihindarkan karena hal itu justru akan
menjauhkan anak dari sastra.
Daftar Rujukan
Huck, Charlotte S. 1987. Children Literature in the Elementary School
New York:Holt Rinehart.
Ismawati, Esti. 2013. Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Ombak.
Nurgiantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar